“Shaum itu untuk-Ku”
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Semua amal anak Adam dapat dicampuri kepentingan hawa nafsu, kecuali shaum. Maka sesungguhnya shaum itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa shaum (puasa) memiliki kedudukan yang sangat istimewa di sisi Allah. Mengapa? Karena puasa adalah ibadah yang paling tersembunyi. Tidak ada yang benar-benar tahu apakah seseorang sungguh-sungguh berpuasa atau tidak—kecuali dirinya dan Allah.
Di sinilah letak keikhlasan.
🐛 Dari Ulat Menuju Kupu-Kupu
Pernahkah kita melihat seekor ulat bulu?
Bagi sebagian orang, ia tampak menjijikkan. Tidak menarik. Bahkan dihindari. Namun, tahukah kita bahwa ulat tidak selamanya seperti itu? Ia memiliki fase metamorfosa. Ia masuk ke dalam kepompong, berdiam diri dalam proses yang sunyi. Lalu keluar sebagai kupu-kupu yang indah dan mempesona.
Proses itu adalah tanda kebesaran Allah.
Allah mampu mengubah sesuatu yang dianggap buruk menjadi sangat indah. Tetapi perubahan itu tidak instan. Ada proses. Ada fase “kepompong”. Ada waktu untuk diam, bertahan, dan bertransformasi.
🌙 Ramadhan: Kepompong Kehidupan Seorang Mukmin
Bagi kita, Ramadhan adalah fase kepompong itu.
Ramadhan adalah momen terbaik untuk “lahir kembali” menjadi pribadi yang lebih baik. Jika kita memasuki Ramadhan dengan sungguh-sungguh—mengikuti aturan Allah dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasul-Nya—maka insyaAllah kita akan keluar darinya sebagai pribadi yang lebih indah akhlaknya.
Allah berfirman:
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.”
(QS. An-Nazi’at: 40–41)
Inti Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan haus. Intinya adalah melatih diri untuk mengendalikan hawa nafsu.
⚔️ Siapa yang Melatih Nafsu Kita?
Sering kali kita merasa sulit mengendalikan diri. Marah mudah meledak. Lisan sulit dijaga. Pandangan sulit dikontrol.
Mengapa?
Karena selama ini hawa nafsu kita juga “dilatih” oleh musuh yang tak terlihat: syetan.
Allah mengingatkan:
“Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia sebagai musuhmu.”
(QS. Fathir: 6)
Namun kita patut bersyukur. Di bulan Ramadhan, syetan dibelenggu. Allah memberi kesempatan emas bagi kita untuk benar-benar melatih diri tanpa gangguan yang besar.
Inilah momen pembentukan karakter.
🌟 Puasa Total: Seluruh Anggota Tubuh Ikut Berpuasa
Shaum bukan hanya soal perut dan syahwat. Di SMA IT Assalaam, kita belajar bahwa karakter unggul lahir dari latihan yang menyeluruh.
Maka puasa sejati adalah ketika:
- Lisan ikut berpuasa dari ghibah dan dusta
- Mata berpuasa dari pandangan yang tidak baik
- Telinga berpuasa dari hal sia-sia
- Hati berpuasa dari iri dan sombong
Jika hawa nafsu sudah terlatih di bulan Ramadhan, maka setelah Ramadhan pun ia akan lebih mudah dikendalikan.
Inilah bekal menjadi insan muttaqin.
🤝 Ramadhan dan Akhlak Seorang Tamu Allah
Ramadhan juga mengajarkan adab.
Kita adalah tamu Allah. Dan Allah adalah sebaik-baik Tuan Rumah. Namun seorang tamu yang baik tentu menjaga sikapnya. Ia tidak membuat kerusakan. Ia menjaga kehormatan dirinya.
Begitu pula kita di bulan Ramadhan.
Kita menjaga ibadah, menjaga sikap, menjaga akhlak. Karena boleh jadi, ini adalah Ramadhan terakhir dalam hidup kita.
🦋 Menjadi Versi Terbaik Diri Kita
Santri SMA IT Assalaam adalah generasi QLEAD:
Quranic, Leadership, Entrepreneurship, Achievement.
Semua itu berawal dari satu hal: kemampuan mengendalikan diri.
Ramadhan adalah laboratorium pembentukan jiwa pemimpin. Pemimpin yang mampu memimpin dirinya sendiri sebelum memimpin orang lain.
Mari kita masuk ke dalam “kepompong” Ramadhan dengan kesungguhan. Agar ketika Syawal tiba, kita tidak kembali menjadi “ulat” yang sama, tetapi menjadi “kupu-kupu” yang lebih indah akhlaknya, lebih kuat imannya, dan lebih matang kepemimpinannya.
Semoga Allah melimpahkan inayah-Nya kepada kita semua.
Semoga setelah Ramadhan ini, kita kembali dalam keadaan fitri—lebih bersih, lebih lembut, dan lebih dekat kepada-Nya.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin. 🌙✨
